Sabtu, 30 Januari 2016

Makalah Takhrij Hadist

MAKALAH
TAKHRIJ AL-HADIST
Description: C:\Users\HP MINI\Downloads\uin.png








Oleh:





Kelompok 11
SITI AMINI HARIS (20700114045)
RAMLAH (20700114
ST. SYARIFAH (20700114042)
HARTINA P (20700114




JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2015


KATA PENGANTAR
Description: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTXSpM92qc9Zqdou3Bd4fXd5QNlHJnPtyhas85qQi29Uk9kKv-3Kw
           
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang bertema “TAKHRIJ AL-HADIST ini. Tak lupa shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang kita nantikan syafaat nya di hari kiamat nanti.
Penulis yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UIN-AM) yang ditugaskan untuk membuat makalah dengan tema “TAKHRIJ AL-HADIST. Tugas makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah wajib untuk setiap mahasiswa dalam ruang lingkup Jurusan Pendidikan Matematika kelas 3-4, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Makalah ini membahas mengenai pengertian takhrij al-hadist, urgensi dari kegiatan takhrij al-Hadist, pengenalan kitab-kitab terkait dan penggunaannya, dan praktik takhrij al-Hadist.
Makalah ini tidak serta merta dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu yang telah ikut andil dalam proses penyelesaian makalah ini baik langsung maupun tidak langsung.
            Penulis menyadari bahwa sekeras apapun usaha yang dilakukan,       ketidaksempurnaan pasti mengiringinya, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT semata. Begitupun dalam penulisan makalah ini yang masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga dalam penulisan berikutnya dapat lebih baik dari makalah ini. Akhir kata, semoga segala usaha kita dapat bernilai ibadah dan mendapat ridho di sisi-Nya, Amin ya Rabb…
Makassar, Juni 2015
                                                                                               
Penyusun
















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................       i
DAFTAR ISI......................................................................................................     iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang........................................................................................      1           
B.     Rumusan Masalah...................................................................................      2
C.     Tujuan Penulisan.....................................................................................      2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Takhrij Al-Hadist..................................................................      3
B.     Urgensi dari Kegiatan Takhrij Al-Hadist................................................      6
C.     Pengenalan Kitab-Kitab Terkait dan Penggunaannya............................    10
D.    Praktik Takhrij Al-Hadist........................................................................    13
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.......................................................................................    20
Daftar Pustaka....................................................................................................    22
 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Langkah awal dalam melakukan kegiatan penelitian hadis adalah kegiatan Takhrij al-Hadis (selanjutnya cukup disebut takhrij). Kegiatan ini sangat penting, karena tanpa kegiatan ini terlebih dahulu maka akan sulit diketahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti. Kegiatan penelitian hadis, baik dari segi sanad maupun dari segi matan sangat penting. Upaya penelitian terhadap hadis-hadis yang tertuang dalam beberapa kitab hadis merupaka sebuah keharusan. Karena kitab-kitab hadis yang disusun oleh para mukharrij-nya masing-masing memuat riwayat hadis baik sanad-nya maupun mata-nya. Artinya, para mukharrij bersikap terbuka dengan mempersilahkan para ahli yang berminat untuk meneliti semua hadis yag terhimpun dalam kitab hadis yang mereka susun.
            Kegiatan penelitian hadis berlandaskan pada signifikansi hadis sebagai sumber otoritatif kedua setelah al-Qur’an menempati posisi yang sangat urgen. Otoritas Nabi Muhammad saw. Di luar al-Qur’an tak terbantahkan dan mendapat justifikasi dari wahyu. Secara tekstual, beliau merupakan aplikas al-Qur’an yang pragmatis. Dalam beberapa literature dikatakan bahwa hadis berasal dari sumber yang sama. Perbedaan keduanya hanya pada bentuk dan tingkat ontensitasnya, bukan pada substansinya. Maka dari itu, wahyu dikategorikan sebagai wahyu ghairu mathlu’.
            Hadis Nabi, baik dalam tataran ucapan , perbuatan dan taqrir Nabi, telah tertuang dalam berbagai kitab dan telah disebarluaskan dikalangan masyarakat luas. Dampak dari hal tersebut adalah munculnya berbagai bentuk pemahaman dari masyarakat tentang kandungan sebuah hadis. Pemahaman tersebut terlepas dari pengetahuan tentang kualitas sanad dan matan hadis yang bersangkutan.
Brangkat dari tema kajian dan uraian di atas, maka persoalan yang akan dikaji pada makalah ini yaitu pengertian takhrij hadist,  urgensi dari kegiatan takhrij al-Hadist, pengenalan kitab-kitab terkait dan penggunaannya, dan praktik takhrij al-Hadist.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini, yaitu :
1.      Bagaimana pengertian takhrij al-Hadist?
2.      Bagaiamana urgensi dari kegiatan takhrij al-Hadist?
3.      Bagaimana pengenalan kitab-kitab terkait penggunaannya?
4.      Bagaimana praktik takhrij al-Hadist?
C.    Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini, yaitu :
1.      Untuk mengetahui pengertian takhrij al-Hadist.
2.      Untuk mengetahui urgensi dari kegiatan takhrij al-Hadist.
3.      Untuk mengetahui pengenalan kitab-kitab terkait penggunaannya.
4.      Untuk mengetahui praktik takhrij al-Hadist.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Takhrij Hadist
Dalam melakukan penelitian hadist, langkah awal yang harus di lakukan seorang peneliti adalah melakukan kegiatan takhrij al-hadist. Kata takhrij secara etimologi berarti:   1) Al-istimbat (hal mengeluarkan); 2)Al-Tadrib (hal melatih atau pembiasaan); dan 3)Al-Tawjih (hal menghadapkan). Apabila dikaitkan dengan kata al-hadist, tentunya dapat dimaknakan mengeluarkan hadist. Artinya, mengutip hadist dari kitab-kitab hadist atau membacakan hadist tertentu dari kitab hadist tertentu kepada seseorang.
Pengertian takhrij secara etimologi dan yang biasa dipakai oleh ulama hadist cukup bervariasi diantaranya:
1.      Mengemukakan hadist kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadist itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh
2.      Ulama hadist mengemukakan berbagai hadist yang telah dikemukakan oleh para guru hadist, atau berbagai kitab, atau lainnya yang susunannya dikemukan berdasarkan riwayatnya sendiri atau para gurunya atau temannya atau orang lain, dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber pengambilan.
3.      Menunjukkan asal usul hadist dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadist yang disusun oleh para mekharrijnya langsung (yakni para periwayat yang juga sebagai penghimpun bagi hadist yang mereka riwayatkan)
4.      Mengemukakan hadist berdasarkan sumbernya atau berbagai sumbernya, yakni kitab-kitab hadist yang didalamnya disertakan metode periwayatannya dan sanadnya masing-masing, serta diterangkan keadaan para periwayatnya dan kualitas hadistnya
5.      Menentukan atau mengemukakan letak asal hadist pada sumbernya yang asli, yakni berbagai kitab, yang didalamnya dikemukakan hadist itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian untuk kepentingan penelitia, dijelaskan kualitas hadist yang bersangkutan
Pengertian yang dikemukakan pada poin pertama merupakan salah satu kegiatan yang telah dilakaukan oleh para periwayat hadist yang menghimpun hadist ke dalam kitab hadist yang mereka susun masing-masing, misalnya imam Al-Bukhari dengan kitab sahih-nya, imam Muslim dengan sahihnya, dan Abu Dawud dengan kitab sunan-nya.
Pengertian Al-Takhrij yang dikemukakan pada butir kedua telah dilakukan oleh banyak ulama hadist, misalnya oleh imam Al-Baihaqi, yang telah banyak “mengambil” hadist dari kitab al- sunan yang disusun oleh Abu al-Hasan al-Basri al-Saffar, lalu al-Baihaqi mengemukakan sanadnya sendiri.
Pengertian al-Takhrij pada poin ketiga banyak dijumpai pada kitab-kitab himpunan hadist, misalnya Bulughul Mar’am karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Dalam melakukan pengutipan hadist pada karya tulis ilmiah, mestinya diikuti pengertian al-Takhrij pada butir ketiga tersebut, dengan dilengkapi data kitab yang dijadikan sumber. Dengan demikian, hadist yang dikutip dengan tidak hanya matannya saja, tetapi minimal juga nama mukharrijnya dan nama periwayat pertama (sahabat nabi) yang meriwayatkan hadist yang bersangkutan.
Pengertian al-Takhrij yang dikemukakan pada poin keempat digunakan oleh ulama hadist untuk menjelaskan berbagai hadist yang termuat dikitab tertentu, misalnya kitab Inya Ultim al-Din karya imam al-Ghazali, yang dalam penjelasannya itu dikemukakan sumber pengambilan tiap-tiap hadist dan kualitasnya masing-masing.
Adapun pengertian al-Takhrij yang digunakan untuk maksud kegiatan penelitian hadist lebih lanjut dan dalam pembahasan makalah ini ialah pengertian yang dikemukakan pada butir kelima. Berangkat dari pengertian itu, maka yang dimaksud dengan takhrij al-hadist dalam hal ini adalah penelusuran atau pencarian hadist pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadist yang bersangkutan yang didalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadist yang bersangkutan. Berbicara tentang takhrij sebagaimana beberapa defenisi diatas tentunya sangat erat kaitannya dengan penelitian hadist baik penelitian awal maupun penelitian lanjutan. Penelitian hadist pada masa awal telah dilakukan oleh para ulama salaf yang kemudian hasilnya telah dikodifikasikan dalam berbagai buku hadist. Penyebutan sekian banyak hadist yang disertai sanadnya dan keterangan kualitasnya adalah merupakan hasil penelitian ulama salaf. Kemudian ulama khalaf berkesempatan pula untuk mencari hasil yang belum dikoidifikasikan sebagai pelengkap atau takhrij atau meneliti kembali (back research) hasil takhrij mereka atau bagian-bagian yang belum selesai dianalisis mereka.
B.     Urgensi dari Kegiatan Takhrij al-Hadist
Kegiatan takhrij al-Hadist sangat urgen bagi seorang peneliti hadist asal-usul riwayat hadist yang akan diteliti, berbagai riwayat yang telah meriwayatkan hadist itu dan ada tidaknya korroborasi (sahid atau mutabih) dalam sanad bagi hadist yang ditelitinya hanya dapat diketahui melalui kegiatan takhrij akl-hadist. Dengan demikian, minimal ada tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan takhrij al-hadist dalam pelaksanaan kegiatan hadist yaitu:
1.      Untuk mengetahui asal-usul hadist yang akan diteliti
Kegiatan takhrij perlu dilakukan terlebih dahulu, untuk mengetahui bagaimana asal-usul hadist yang akan diteliti itu. Kualitas dan status suatu hadist akan sangat sulit diteliti jika tidak diketahui asal usulnya lebih dahulu. Demikian pula susunan sanad dan matan menurut sumber pengambilannya. Penelitian sebuah hadist akan sulit terlaksana dengan akurat dan cermat, tanpa diketahui susunan sanad dan matannya secara benar
2.      Untuk mengetahui seluruh riwayat hadist yang akan diteliti.
Kegiatan takhrij perlu dilakukan untuk mengetahui seluruh riwayat hadist yang akan diteliti. Bisa jadi hadist yang akan diteliti memiliki lebih dari satu sanad. Dari sanad yang lebih dari satu itu mungkin salah satunya berkualitas dhaif, sedangkan yang lainnya berkualitas sahih. Seluruh riwayat hadist yang akan diteliti, harus terlebih dahulu diketahui, agar sanad yang berkualitas dhaif dan berkualitas sahih dapat ditentukan.
3.      Untuk mengetahui ada tidaknya sahid dan mutabi
Salah satu bagian dari kegiatan penelitian hadist adalah menentukan ada tidaknya sahid atau mutabi. Kedua hal ini bertujuan untuk mengetahui adanya periwayat lain yang sanadnya mendukung pada sanad yang diteliti. Dukungan (corroboration) itu dapat menpengaruhi kualitas sanad yang menjadi objek penelitian. Sebuah sanad yang lemah pada tingkat sahabat, dapat menjadi kuat bila ada dukungan pada sanad yang lain. Dalam penelitian sebuah sahabat, sahid yang didukung oleh sanad yang kuat dapat memperkuat sanad yang sedang diteliti. Demikian pula mutabi yang memiliki sanad yang kuat, maka sanad yang sedang diteliti mungkin dapat ditingkatkan kekuatannya oleh mutabu tersebut. Untuk mengetahui, apakah suatu sanad memiliki sahid atau mutabi maka seluruh sanad hadist itu harus dikemukakan. Itu berarti, takhrij al-hadist harus dilakukan terlebih dahulu. Tanpa kegiatan ini, tidak dapat diketahui secara pasti seluruh sanad untuk hadist yang sedang diteliti.
            Sedangkan manfaat dari takhrij hadist diantaranya adalah:
1.      Mengetahui referensi beberapa buku hadist. Dengan takhrij seseorang dapat mengetahui siapa perawi suatu hadist yang diteliti dan didalam kitab hadist apa saja hadist tersebut didapatkan.
2.      Menghimpun sejumlah sanad hadist. Dengan takhrij seseorang dapat menemukan sebuah hadist yang akan diteliti disebuah atau beberapa induk hadist. Misalnya terkadang dibeberapa tempat didalam kitab al-Bukhari saja, atau didalam kitab-kitab lain. Dengan demikian ia akan menghimpun sejumlah sanad.
3.      Mengetahui keadaan sanad yang bersambung (muttashil) dan yang terputus (munqathi’) dan mengetahui kadar kemampuan perawi dalam mengingat hadist serta kejujuran dalam pewayatan.
4.      Mengetahui status suatu hadist. Terkadang ditemukan sanad atau suatu hadist dhaif, tetapi melalui sanad lain hukumnya sahih.
5.      Meningkatkan suatu hadist yang dhaif menjadi hasan li ghayirihi karena adanya dukungan sanad lain yang seimbang atau lebih tinggi kualiutasnya.
6.      Mengetahui bagaimana para imam hadist menilai suatu khualitas hadist dan bagaimana kritikan yang di sampaikan.
7.      Seseorang yang melakukan takhrij dapat menghimpun beberapa sanad dan matan suatu hadist.
8.      Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya pencampuran riwayat
9.      Takhrij dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya.hal ini karena kemungkinan saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain maka nama perawi itu akan menjadi jelas.
10.  Tkhrij dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.
11.  Takhrij dapat memperjelas arti  kalimat yang asing yang terdapat dalam satu sanad.
12.  Takhrij dapat menghilangkan suatu “syadz” (kesensirian riwayat yang mengalahi riwayat tsiqah) yang terdapat dalam suatu hadist melalui perbandingan suatu riwayat.
13.  Takhrij dapat membedakan hadist yang muadraj (yang mengalami penyusupan sesuatu) dari yang lainnya.
14.  Takhrij dapat mengungkapkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dialami oleh seorang perawi.
15.  Takhrij dapat dibedakan proses periwayatan yang dilakukan dengan ma’na (pengertian) saja.
16.  Takhrij dapat mengungkapkan hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi.
17.  Takhrij dapat membedakan proses tempat dan aktu timbulnya suatu hadist.
18.  Takhrij dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadist. Diantara hadist-hadist ada yang timbul karena perilaku seseorang atau kelompok orang melalui perbandingan sanad-sanad yang ada maka “asbab al-wurud” dalam hadish tersebut akan dapat diketahui dengan jelas
19.  Takhrij dapat mengungkapkan kemungkinan terjadinya percetakan dengan melalui perbandingan –perbandingan sanad yang ada.
C.    Pengenalan Kitab-Kitab Terkait dan Penggunaannya
Ketika mereka takhrij hadist tidak memerlukan kitab-kitab yang berkaitan dengan takhrij hadis ini. adapun  kitab-kitab tersebut antara lain sebagai berikut:
1.      Hidayatul bari ila tartibi ahadisil bukhori
Penyusun kitab ini adalah abdul rahman ambar al-misri at-tahtawi.kitab ini disusun khusus untuk mencari hadist-hadist yang termuat dalam sokhikh bukhori.lafadz hadist disusun menurut aturan huruf abjad arab, namun hadist-hadist yang dikemukakan secara berulang dalam sokhikh bukhori tidak dimuat secara berulang dalam kamus diatas. Dengan demikian ,perbadaan lafalz dalam matan hadist riwayat al-bukhori tidak dapat diketahui melalui kamus tersebut.
2.      Mu’jam al-fadzi wala siyyama al-garibu minha atau fahras litartibi ahadisti muslim
Kitab tersebut merupakan salah satu jiz ke-5 dari kitab shohih mislim yang disunting oleh muhammad abdul baqi. Juz ke-5 ini merupakan kamus terhadap juz ke 1-4 yang berisi:
a.       Daftar urutan judul kitab, nomor hadist dan juz yang memuatnya.
b.      Daftar nama para sahabat nabi yang meriyawatkan hadist yang termuat dalam shohih muslim.
c.       Daftar awal matan hadist dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta menerangkan nomor-nomor hadist yang diriwayatkan oleh bukhori bila kebetulan hadist tersebut juga diriwayatkan oleh bukhori.
3.      Miftahus shohihain.
Kitab ini disusun oleh muhammad syarif bin mustofa al-tauqiyah.kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadist –hadist yang diriwayatkan oleh muslim, akan tetapi hadist-hadist yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadist-hadist yang berupa sabda saja. Hadist tersebut disusun menurut abjad dari awal lafadz matan hadist.
4.      Al-buqhyatu fi tarfibi ahadist al-hiyah
Kitab ini disusun oleh sayyid abdul aziz bin al-sayyid muhammad bin sayyid sidding al-qomari.kitab hadist tersebut memuat dan menerangkan hadist-hadist yang tercantum dalam kitab yang disusun oleh abu nuaim al-asbuni (W.340 H) yang berjudul hilyatul wathbaqoful auliyai asfiyani.sejenis dengan kitab tersebut adalah kitab miftahut tartibi li ahadisti tarikhil khotib yang disusun oleh sayyid ahmad bin sayyid muhammad bin sayyid as-shidding al-qomari yang memuat dan menerangkan hadist-hadist yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh abu bakar bin ali bin subit bin ahmad al-baqhdadi yang dikenal dengan al-Khotib al-Bugdadiw (W. 436 H). Kitabnya diberi judul Tarikhu Baghdadi yang terdiri dari 4 jilid.


5.      Al-Jumius Shogir
Kitab ini disusun oleh imam Jalaluddin Abdurrahman Assayuthi (W 91 H) kitab kamus ini memuat hadist-hadist yang terhimpun dalam kitab himpunan hadist karya imam Assayuthi juga, yakni al-Jam’u aljawami hadist yang dimuat dalam jami’us Shogir disusun berdasarkan huruf abjad dari awal lafadz matan hadist, sebagian dari hadist-hadist itu ada yang ditulis secara lengkap dan ada juga yang ditulis sebagian saja, namun telah mengandung pengertian yang cukup, kitab hadist disebut juga menyebutkan nama-nama sahabat Nabi yang meriwayatkan hadist yang bersangkutan lengkap dengan nama mukharrijnya (periwayat hadist yang menghimpun hadist dalam kitabnya), selain itu hampir setiap hadist yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penelitian yang dilakukan oleh imam Assayuthi dan disetujui olehnya.
6.      Al-Mu’jam Almufahras li alfadz al-hadist
Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Diantara anggota tim yang paling aktif dalam proses penyusunan ini adalah Dr. Arnold John Wensink (W 939 M), seorang profesor bahasa semit termasuk bahasa arab di universitas Leidm, Belanda. Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadist yang berdasarkan petunjuk lafadz matan hadist, berbagai lafadz yang disajikan tidak dibatasi hanya lafadz-lafadz yang berada ditengah dan bagian-bagian lain dari matan hadist. Dengan demikian, kitab Mu’jam mampu memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadist selama sebagian lafadz dari matan hadist yang dicarinya itu telah diketahuinya. Kitab Mu’jam itu terdiri dari tujuh juz dan dapat digunakan untuk mencari hadist-hadist yang terdapat didalam sembilam kitab hadist; sahih al-Bukhari, sahih Muslim, sunan Abu Daud, Suann at-Tarmidzi, sunan Annasa’I, Sunan Ibnu Majah, Sunan Addarimi, Muwatha’ malik dan musnad imam Ahmad.
D.    Praktik Takhrij Al-Hadist
Untuk mengetahui sejarah jelah sebuah hadist beserta sumber-sumbernya, ada beberapa metode takhrij yang dapat dipergunakan oleh mereka yang akan menelusurinya. Metode-metode ini diupayakan oleh para ulama dengan maksud mempermudah mencari hadist Nabi. Para ulama telah banyak mengkodifikasi hadist-hadist dengan mengaturnya dalam susunan yang berbeda satu dengan yang lainnya, sekalipun semuanya menyebutkan ahli hadist yang meriwayatkannya. Perbedaan cara-cara mengumpulkan inilah yang akhirnya menimbulkan ilmu takhrij.
1.      Takhrij Menurut Lafal Pertama Hadits
Metode ini dipakai berdasarkan lafal pertama matan hadist. Dengan kata lain, metode ini mengkodifikasi hadist-hadist yang lafal pertamanya sesuai dengan urutan huruf-huruf hijaiyah. Bagi yang menggunakan metode ini, suatu keharusan baginya untuk mengetahui dengan pasti lafal-lafal pertama hadist-hadist yang akan dicarinya. Kemudian ia melihat huruf pertamanya melalui kitab-kitab takhrij yang disusun dengan metode ini, demikian pula dengan huruf kedua dan seterusnya.
Kelebihan dari metode ini adalah memungkinkan bagi penggunanya dengan cepat menemukan hadist yang dimaksud. Sedangkan kekurangannya adalah apabila terdapat kelainan lafal pertama pada sebuah hadist akan berakibat sulit menemukan hadist.
Jenis kitab yang menggunakan metode ini dibagi dalam tiga jenis: 1) Al-Masyhurat ‘ala alsinat al-nas, seperti: a) Al-Maqasid al-Hasanah fi Bayanin Katsirin al-Hadist al-Mashurahala Alsinah al-Nas karya Muhammad bin Abdurrahman al-Skhawi (902 H); b) Kasyt al-Khafa wa Muzii al-Ilbas ‘amma Isythara min al-hadis al-Alsinah al-Nas karya ismail bin Muhammad al-Ajluuni (1162 H). 2) Al-Kitab allati ruttibat al-hadist fiha ala tartib huruf al-Mu’jam, jenis kitab ini seperti al-Jami’ al-Shagi min hadis al-Basyir al-Nazir karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi (911 H). 3) Al-Mafatih atau al-Fahrasat, seperti Miftah Al- Sahihain karya al-Taukidi.
Dalam kegiatan takhrij metode yang pertama, kitab yang paling banyak digunakan oleh para penelitihadist adalah al-jami’ al-Shagir min hadist al-Basyir al-Nazir, karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi  (911 H). sistematika penulisan atau penenmpatan hadist-hadist dalam kitab al-Jami’ al-Shagir min Hadis diatur menurut urutan-urutan huruf hijaiyah agar mencarinya lebih mudah. Dimulai dengan hadist yang huruf pertamanya Alif, Ba’, ta dan seterusnya. Hadist-hadist yang dimulai dengan hamzah atau lainnya begitu pula diurutkan dengan huruf keduanya sesuai urutan huruf-huruf hijaiyah. Seperti hadist-hadist yang dimulai dengan hrurf ba’, huruf berikutnya adalah ba’ dengan alif, ba’ dengan ba’, ba’ dengan ta’ dan seterusnya.
Penyusunan kitab ini tidak menuliskan secara lengkap dari keterangan tentang kualitas sebuah hadist. Ia mempersingkatnya dengan lambang atau kode tertentu.
Selain itu, penyusunan kitab ini juga menulis secara ringkas nama-nama kitab terdapatnya hadist yang disusun. Kode-kode yang dipakai oleh penyusunan kitab ini tercantum dalam muqaddimah-nya.
Dalam men-Takhrij suatu hadis melalui kitab ini semestinya seorang pemakai jasa kamus hadis ini harus mengetahui terlebih dahulu lafal pertama matan hadist tersebut dengan pasti lalu mencarinya dalam babnya. Hadis yang dimulai dengan huruf ba’ dicari pada bab huruf ba’, kemudian mencari huruf keduanya secara berurutan dan seterusnya dengan cara yang sama.
2.      Takhrij Melalui Kata-kata dalam Matan Hadis
Metode ini tergantung kepada kata-kata yang terdapat dalam matan hadist, baik itu berupa isim atau fiil. Huruf-huruf tidak digunakan dalam metode ini, hadis-hadis yang dicantumkan hanyalah bagian hadis. Para penyusun kitab metode ini menitikberatkan peletakan hadis-hadisnya menurut lafal-lafal yang asing. Semakin asing (Ghasib) suatu kata, maka pencarian hadist akan semakin mudah dan efisien.
Keistimewaan metode ini adalah, pertama, mempercepat pencarian hadist; kedua, para penyusun kitab-kitab takhrij metode ini membatasi hadist-hadist dalam beberapa kitab-kitab induk dengan menyebutkan nama kitab, juz, bab dan halaman; ketiga, memungkinkan pencarian hadis melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadist.
Sedangkan kekurangan metode ini adalah pertama, keharusan bagi penggunanya untuk menguasai bahasa arab beserta perangkat ilmunya yang memadai. Karena metode ini menuntut untuk mengembalikan seperti kata-kata kuncinya kepada kata dasarnya; kedua, metode ini tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat; dan ketiga, terkadang suatu hadist tidak dapat didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata yang lain.
Kitab yang terkenal untuk metode ini adalah al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfaz al-Hadis al-Nabawi yang disusun oleh seorang orientalis A.J. Wensink yang merujuk pada Sembilan kitab induk hadis ( al-Kutub al-Tis’ah) yaitu: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tarmudzi, Sunan Abu Daud, Sunan al-Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, sunan al-Darimy, Muwaththa’ Imam MAlik, dan Musnad Imam Ahmad.
3.      Takhrij melalui Perawi Hadis Pertama
Metode ini digunakan ketika nama sahabat disebut pada sebuah hadis yang hendak di takhrij. Apabila nama sahabat tidak disebut pada hadist dan tidak mungkin mengetahuinya, metode ini tidak dapat digunakan. Jika nama sahabat disebut pada hadist atau kita mengetahuinya dengan jalan tertentu, maka kita dapat menggunakan metode ini. 
Kelebihan dari metode ini adalah, pertama, metode ini memperpendek masa proses takhrij dengan diperkenalkannya; kedua, memberikan kesempatan untuk melakukan per-sanad. Sedangkan kekurangannya adalah, pertama, metode ini tidak dapat digunakan dengan baik tanpa mengetahui terlebih dahulu perawi pertama hadis yang kita maksud; kedua, adanya kesulitan mencari hadist diantara yang tertera dibawah setiap perawi pertamanya. Hal ini karena penyusunan hadis didasarkan perawi-perawinya yang menyulitkan.
Untuk metode ini diperlukan tiga jenis kitab yaitu kitab Musnad, kitab Mu’jam dan kitab Athraf. Metode ini jarang dipakai oleh para peneliti hadist dalam kegiatan takhrij.
4.      Takhrij Menurut Tema Hadist
Metode takhrij ini bersandar pada pengenalan tema hadist, setelah kita menentukan hadis yang akan kita takhrij, maka langkah selanjutnya ialah menyimpulkan tema hadis tersebut. Dasar dari metode ini ialah pengetahuan tema hadis. Ketidaktahuan tema hadis akan menyulitkan proses takhrij.
Olehnya itu, metode ini hanya dapat digunakan oleh orang yang mempunyai ketajaman ilmu (dzaug Ilm) yang memungkinkan menentukan atau mendapatkan topic hadist, atau menentukan letaknya jika hadist tersebut mempunyai kandungan yang lebih luas dan banyak bergelut dan mengamati kitab-kitab hadist.
Keistimewaan dari metode ini adalah: pertama, metode ini tidak membutuhkan pengetahuan di luar hadis. Yang dibutuhkan dalam metode ini adalah pengetahuan akan kandungan hadist; kedua, metode ini mendidik ketajaman pemahaman hadis pada diri peneliti; ketiga, metode ini memperkenalkan kepada peneliti maksud hadis yang sedang dicarinya hadis-hadis yang senada dengannya. Sedangkan kekurangan dari metode ini adalah; pertama terkadang kandungan hadis sulit disimpulkan oleh seorang peneliti hingga tidak dapat menentukan temanya. Kedua, terkadang pula pemahaman peneliti tidak sesuai dengan pemahaman penyusun kitab.
Metode ini memerlukan kitab penunjang seperti, Miftah Kunuz al-Sunnah, karangan al-Muttaqy al-Hindy, Kitab al-Jawami, kitab al-Mustakhrajat wa al-Mustadrakat ala al-Jawami, kitab al-Majami dan kitab al-Zawaid. Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab yang bab dan topiknya umumnya berkenaan dengan hal ihwal agama. Kitab-kitab yang paling terkenal dengan masalah ini adalah al-Sunan, al-Mushannafat, al-Muwatha’at dan al-Mustakhrajat ala al-Sunan. Kemudian ada kitab khusus yang menyangkut bab-bab agama atau salah satu aspeknya. Diantara kitab ini adalah al-Ajza’a, al-Targhib wa al-Tarhib, al-Ahkam dan lain-lain. Metode ini jarang dipakai oleh para peneliti hadist dalam kegiatan takhrij.
5.      Takhrij Berdasarkan Status Hadis
Metode ini mengetengahkan suatu hal yang baru berkenaan dengan upaya para ulama yang telah menyusun kumpulan hadis-hadis berdasarkan status hadis, jenis kitab ini sangat membantu dalam proses pencarian hadist berdasarkan statusnya, seperti hadist audisi, hadist mutawatir dan lain-lain.
Dengan kata lain, maksud dari metode ini ialah memperhatikan hal ihwal hadis dan sifat-sifatnya yang terdapat pada matan hadist atau sanad-nya. Jika pada matan hadist terdapat gejala-gejala palsu, maka cara yang paling singkat untuk mengetahui takhrij-nya adalah melihat kitab-kitab “al-Maudhu’at”. Jika hadist itu adalah hadist Qudsi, maka sumber tercepat untuk mencarinya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun hadis-hadis qudsi misalnya kitab al-Azhar al-Mutanasir fi al-Akhbar al-Mutawatirah karangan Suyuti.
Sedangkan pada sanad hadist, jika terdapat ayah yang meriwayatkan hadist dari putranya, maka sumber terdapat untuk men-takhrij-nya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun hadis-hadist yang diriwayatkan bapak dari anak-anaknya seperti kitab riwayat al-Abai AN-al-Abna’I karangan al-Khotib al-Baghdadi. Demikian pula jika sanad itu berangkai atau mursal.
Kelebihan yang dimiliki oleh metode ini adalah mempermudah proses takhrij. Hal ini memungkinkan karena sebagian besar hadist-hadist yang dimuat dalam suatu karya tulis berdasarkan sifat-sifat hadist sangat sedikit, sehingga tidak memerlukan pemikiran yang lebih rumit. Sedangkan kakurangan dari metode ini ialah cakupannya sangat terbatas.
                                              




BAB III
P E N U T U P

A.    Kesimpulan
1.      Yang dimaksud dengan takhrij al-hadist adalah penelusuran atau pencarian hadist pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadist yang bersangkutan di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan.
2.      Adapun urgensi dari metode takhrij al-Hadist adalah:
a.       Untuk mengetahui asal-usul hadist yang akan diteliti.
b.      Untuk mengetahui seluruh riwayat hadist yang akan diteliti.
c.       Untuk mengetahui ada tidaknya hadist yang syahid dan mutabi
3.      Ada enam kitab yang dibutuhkan dalam mentakhrij al-hadist, yaitu:
a.       HIdayatul bari ila Alhadisil Bukhori
b.      Mu’jam Al-Fadzi wala siyyama Al-Garibu Minha
c.       Miftahus Shohihain
d.      Al-Bughyatu fi Tartibi Ahadist Al-Hisyah
e.       Al-Jamius Shogir
f.       Al-Mu’jam Almufahras li Alfadz al-Hadist



4.      Metode-metode takhrij dalam penelitian hadist adalah:
a.       Takhrij menurut lafal pertama hadis
b.      Takhrij menurut lafal-lafal yang terdapat dalam hadis
c.       Takhrij menurut perawi terakhir
d.      Takhrij menurut tema hadis
e.       Takhrij menurut klasifikasi jenis hadis.













DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, La Ode Ismail dan Abustani Ilyas.2011.Pengantar Ilmu Hadis.   
       Makassar.Zadahaniva Publishing

Khon, Abdur Majid.2009.Ulumul Hadis.Jakarta.Amzah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar