MAKALAH
PEMBENTUKAN
PARAGRAF
Oleh:
Kelompok I
Siti Amini Haris (20700114045)
Siti Hardiyanti (207001140064)
Nurul Hikmah Ahmad (20700114047)
Ramlah (20700114068)
Muhammad Zulfikar (20700114043)
Awaluddin (20700114051)
Muh. Asdar (20700114055)
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2015
KATA PENGANTAR

Puji
dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang bertema “Penbentukan Pragraf”
ini. Tak lupa shalawat
serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang kita nantikan
syafaat nya di hari kiamat nanti.
Penulis yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UIN-AM) yang
ditugaskan untuk membuat makalah dengan
tema “Sejarah, Fungsi, Kedudukan, dan Ragam Bahasa Indonesia”.
Tugas makalah ini merupakan
salah satu tugas dari mata
kuliah wajib untuk setiap mahasiswa dalam ruang lingkup Jurusan Pendidikan Matematika kelas 3-4, Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Makalah ini membahas mengenai pengertian paragraf,
fungsi, tujuan dan syarat-syarat pembentuka paragraf serta jenis-jenis paragraf
dan cara pengembangan paragraf.
Makalah ini
tidak serta merta dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak.
Oleh karena ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
tidak bisa disebutkan namanya satu per satu yang telah ikut andil dalam proses
penyelesaian makalah
ini baik langsung maupun tidak langsung.
Penulis
menyadari bahwa sekeras apapun usaha yang dilakukan, ketidak sempurnaan pasti
mengiringinya, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT semata. Begitupun
dalam penulisan makalah
ini yang masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga dalam penulisan berikutnya
dapat lebih baik dari makalah
ini. Akhir kata, semoga segala usaha kita dapat bernilai ibadah dan mendapat
ridho di sisi-Nya, Amin ya Rabb…
Makassar, April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR
ISI...................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan..................................................................................... 3
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian paragraf................................................................................. 4
B. Tujuan, Fungsi dan Syarat-syarat pembentukan paragraf....................... 11
C. Jenis-jenis paragraf.................................................................................. 15
D. Pengembangan paragraf.......................................................................... 19
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan............................................................................................. 23
B.
Saran....................................................................................................... 24
Daftar
Pustaka.................................................................................................... 25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
menulis sebuah karangan atau cerita tentunya selalu dijumpai susunan dari
banyak kata yang membentuk kalimat. Kalimat-kalimat tersebut harus dihubungkan
lagi sehingga terbentuk sebuah paragraf. Menyusun paragraf berarti menyampaikan
suatu gagasan atau pendapat tertentu yang harus disertai alasan ataupun bukti
tertentu.
Menyusun
suatu paragraf yang baik harus memperhatikan beberapa aspek. Aspek-aspek
tersebut antara lain adalah ide pokok yang akan di kemukakan harus jelas, semua
kalimat yang mendukung paragraf itu secara bersama-sama mendukung satu ide,
terdapat kekompakan hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain yang
membentuk alinea, dan kalimat harus tersusun secara efektif (kalimat disusun
dengan menggunakan kalimat efektif sesuai ide bisa disampaikan dengan tepat).
Oleh
karena itu, untuk lebih memahami bagaimana menyusun sebuah paragrraf yang benar
dan mengetahui berbagai macam jenis paragraf, maka makalah ini disusun agar
bisa menambah pengetahuan para pembaca tentang penggunaan paragraf yang baik.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
yang akan kita bahas dalam makalah ini yaitu:
1.
Bagaimana pengertian paragraf dalam bahasa Indonesia?
2.
Bagaimana tujuan,
fungsi dan syarat-syarat pembentukan paragraf?
3.
Bagaimana jenis-jenis atau kalsifikasi paragraf?
4.
Bagaimana cara pengembangan
paragraf?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan
makalah ini, yaitu :
1.
Untuk mengetahui pengertian paragraf dalam bahasa Indonesia.
2.
Untuk mengetahui tujuan, fungsi dan syarat-syarat pembentukan paragraf.
3.
Untuk mengetahui jenis-jenis atau kalsifikasi paragraf.
4.
Untuk mengetahui cara
pengembangan paragraf.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Paragraf
Paragraf adalah satu kesatuan pikiran yang lebih tinggi
dan lebih luas daripada kalimat. Sebagai satuan pikiran yang lebih tinggi dan
lebih luas, paragraf terdiri atas kumpulan atau rangkaian kalimat yang
mendukung suatu ide pokok yang tertuang dalam kalimat utama atau kalimat topik.
Ide pokok tersebut akan menjadi jelas apabila di dukung oleh ide-ide penjelas
(Tim Pengajar UNHAS,2008:63).
Meskipun paragraf terdiri dari beberapa kalimat, tidak
satu pun dari kalimat-kalimat itu yang membicarakan soal lain. Seluruh paragraf
memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan
masalah itu. Jadi, paragraf adalah bagian-bagian karangan yang terdiri atas
kalimat-kalimat yang berhubungan secara utuh dan padu serta merupakan satu
kesatuan pikiran (Rahim,2013:66).
Sebuah paragraf dapat ditandai dengan memulai kalimat
pertama agak menjorok kedalam, kira-kira lima ketukan mesin ketik atau
kira-kira dua sentimeter. Dengan demikian para pembaca dengan
mudah dapat melihat permulaan tiap paragraf sebab awal
paragraaf ditandai oleh kalimat permulaannya yang tidak ditulis sejajar dengan
garis margin atau garis pias kiri. Selain itu, penulis dapat pula menambahkan
tanda sebuah paragraf itu dengan memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya (Arifin,2003:120-121).
Setiap paragraf
hanya boleh mengandung satu ide pokok. Perhatikan contoh paragraf
berikut:
(a)Dalam pengenbangan bahasa Indonesia selalu mengalami
perubahan. (b)Perubahan itu antara lain berupa penambahan kata-kata baru, baik
dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. (c)Penambahan yang berasal dari bahasa
asing, misalnya astronaut, kosmonaut, satelit, komputer dan televisi. (d)Penambahan
kata-kata baru itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
komunikasi.
Paragraf tersebut terdiri atas empat kalimat, semuanya
membicarakan perkembangan bahasa Indonesia. Ide pokok (pikiran utama) paragraf
tersebut adalah “perkembangan bahasa Indonesia” yang tertuang dalam kalimat
(a). Kalimat (b), (c) dan (d) merupakan kalimat penjelas karena ketiga kalimat
menjelaskan ide pokok pada kalimat utamanya (Tim Pengajar UNHAS,2008:64).
Rangka atau struktur sebuah paragraf terdiri atas sebuah
kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Dengan kata lain, apabila dalam
sebuah paragraf terdapat lebih dari sebuah kalimat topik, paragraf itu tidak
termasuk paragraf yang baik. Kalimat-kalimat
di dalam paragraf itu harus saling mendukung, saling menunjang,
kait-berkait satu dengn yang lainnya.Kalimat topik adalah kalimat yang berisi
topik yang dibicarakan pengarang. Pengarang meletakkan inti maksud pembicaraaanya
pada kalimat topik (Arifin,2003:121).
Menurut Rahim (2013:66-67), dalam mengelola paragraf yang baik perlu menerapkan enam
asas yang berkenaan dengan gagasan. Keenam asas tersebut lebih menyangkut
tatanan dalam menyampaikan gagasan. Keenam asas dalam menuangkan gagasan dalam
paragraf adalah sebagai berikut:
a) Kejelasan, berarti sifat tidak samar-samar sehingga tiap
butir fakta dan pendapat yang dikemukakan seakan-akan tampak nyata oleh
pembaca. Karangan tersebut mudah dipahami dan tidak mugkin disalah tafsirkan.
b) Keringkasan, berarti karangan tersebut tidak pendek atau
singkat, melainkan bahwa karangan itu tidak berboros kata, tidak
berlebih-lebihan dengan ungkapan tidak mengulang-ulang butir ide yang sama,
tidak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan.
c) Ketepatan, artinya bahwa karangan dapat menyampaikan
butir-butir pengetahuan kepada pembaca dengan kecocokan sepenuhnya seperti
maksud penulis. Ketepatan juga meliputi ketepatan menaati tata aturan bahasa,
ejaan dan tanda baca.
d) Kesatupaduan, artinya bahwa segala sesuatu yang disajikan
dalam karangan harus berkisar, bergayutan dan relevan dalam satu gagasan pokok
atau pikiran utama karangan.
e) Pertautan atau koherensi, asas yang menghendaki agar ada
saling kait antar kalimat dalam paragraf dan antar paragraf. Pertautan menghendaki
agar jangan sampai ada kata atau frasa yang tidak jelas rujukannya.
f) Harkat, asas yang menghendaki karangan benar-benar
berbobot. Asas harkat juga asas pengembangan yang memadai.
B.
Tujuan, Fungsi dan Syarat-Syarat Pembentukan paragraf
Kita akan kesulitan memahami isi suatu paragraf apabila kita
membaca sebuah tulisan yang tidak tersusun atas kesatuan paragraf. Keteraturan
penyajian gagasan dalam karya tulis dapat dilakukan jika setiap paragraf hanya
memuat satu ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat utama. Gagasan bawahan yang
berfungsi sebagai ide penjelas terhadap ide pokok dinyatakan dalam
kalimat-kalimat yang lain (Tim Pengajar UNHAS,2008:64).
Menurut Tim Pengajar UNHAS (2008:64-65), tujuan penyusunan paragraf dalam karya tulis yaitu:
·
Memudahkan
pengertian dan pemahaman dengan cara menyekat-nyekat ide pokok yang satu dari
ide pokok yang lain berdasarkan keharusan untuk mengungkap satu ide pokok saja
pada setiap paragraf. Hal ini sekaligus menunjukkan adanya penghentian secara
wajar dan formal sebelum beralih ke paragraf berikutnya . Jika terdapat dua
atau lebih ide pokok, paragraf tersebut perlu di pecah menjadi dua atau lebih
paragraf.
·
Memudahkan pembaca
mengikuti uraian penulis secara sistematis dari ide yang satu ke ide yang lain
sehingga pemusatan perhtian dapat dilakukan terhadap setiap ide yang
diungkapkan dalam karya tulis tersebut.
Paragraf dapat
berfungsi sebagai tanda pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lanjut
topik sebelumnya. Paragraf juga bisa berfungsi untuk menambah hal-hal yang
penting atau untuk merinci apa yang sudah diutarakan dalam paragraf sebelumnya
(Rahim,2013:68).
Menurut Widjono (2007:175), paragraf berfungsi sebagai
berikut:
·
Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk satuan
pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis,
dalam satu kesatuan.
·
Menandai peralihan
(pergantian) gagasan baru lagi karangan yang terdiri dari beberapa paragraf.
Ganti paragraf berarti ganti pikiran atau gagasan pokok
·
Memudahkan
pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembaca.
·
Memudahkan
pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang masih
kecil.
·
Memudahkan
pengendalian variabel, terutama karangan yang terdiri dari beberapa variabel.
Menurut Rahim (2013: 67), syarat-syarat pembentukan
paragraf adalah sebagai berikut:
1. Kesatuan paragraf
Untuk membentuk kesatuan paragraf, setiap paragraf hanya
berisi satu pokok pikiran. Paragraf terdiri dari beberpa kalimat. Tetapi, harus
merupakan satu kesatuan, tidak ada satu kalimat pun yang sumbang, yang tidak
mendukung kesatuan paragraf. Bahwa semua kalimat yang membina paragraf itu
secara bersama-sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu Jika terdapat
kalimat yang sumbang, paragraf akan rusak kesatuannya.
2. Kepaduan paragraf
(koherensi)
Paragraf dinyatakaan padu jika dibangun dengan
kalimat-kalimat yang memiliki hubungan pikiran yang logis. Hubungan
pikiran-pikiran yang ada dalam paragraf menghasilkan kejelasan struktur dan
makna paragraf. Hubungan kalimat tersebut menghasilkan paragraf yang padu, utuh
dan kompak. Uraian yang tersusun baik, tidak menunjukkan loncatan-loncatan
pikiran yang membingungkan. Uraian pikiran yang teratur akan memperlihatkan
adaanya kepaduan.
Menurut Arifin (2003: 115-119), agar paragraf menjadi
padu digunakan pengait paragraf yaitu sebagai berikut:
a.
Ungkapan penghubung transisi
·
Hubungan tambahan :
lebih lagi, selanjutnya, tambahan pula, di samping itu, lalu, berikutnya,
demikian pula, begitu juga, lagi pula.
·
Hubungan pertentangan : akan tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian,
sebaliknya, meskipun begitu, lain halnya.
·
Hubungan
perbandingan : sama dengan itu,
dalam hal yang demikian, sehubungan dengan itu.
·
Hubungan akibat : oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh
karena itu, maka, oleh sebab itu.
·
Hubungan tujuan : untuk itu, untuk maksud itu.
·
Hubungan singkatan : singkatnya, pendeknya, akhirnya, pada
umumnya, dengan kata lain, sebagai simpulan.
·
Hubungan waktu : sementara itu, segera setelah itu,
beberapa saat kemudian.
·
Hubungan tempat : berdekatan dengan itu.
b.
Kata ganti
a)
Kata ganti orang
Dalam usaha memadu kalimat-kalimat dalam satu paragraf,
kita banyak menggunakan kata ganti orang. Pemakaian kata ganti ini berguna
untuk menghindari penyebutan nama orang berkali-kali. Kata ganti yang dimaksud
adalah saya, aku, ku, kita, kami
(kata ganti orang pertama), engkau, kau,
kamu, mu, kamu sekalian, (kata ganti orang kedua), dia, ia, beliau, mereka dan nya
(kata ganti oranga ketiga).
b) Kata ganti yang lain
Kata ganti lain yang digunakan dalam menciptakan kepaduan
paragraf ialah, itu, ini, tadi, begitu,
demikian, di situ, ke situ, di atas, di sana, di sini dan sebagainya.
c) Kata kunci
Di samping itu, ungkapan pengait dapat pula berupa
pengulanga kata-kata kunci. Pengulangan kata-kata kunci ini perlu dilakukan
dengan hati-hati (tidak terlalu sering).
C.
Jenis-Jenis Paragraf
Menurut
Tim Pengajar UNHAS (2008: 65-68), jenis-jenis paragraf dapat diketahui
berdasarkan tiga aspek yaitu sebagai berikut:
1)
Berdasarkan
fungsinya dalam karangan, paragraf dapat dibagi tiga yaitu:
a) Paragraf pembuka
Paragraf pembuka atau paragraf pendahuluan berfungsi
sebagai pembuka atau pengantar pokok pembicaraan untuk sampai kepada masalah
yang diuraikan dalam karangan. Paragraf jenis ini mampu mengundang minat dan
perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk
mengetahui seluruh isi uraian.
b) Paragraf penghubung
Paragraf penghubung adalah paragraf yang berfungsi
mengemukakan inti persoalan, juga memberi ilustrasi atau contoh. Semua masalah
yang akan diuraikan, dimuat dalam paragraf-paragraf ini yang secara tekhnis
ditempatkan diantara paragraf pembuka dan paragraf penutup. Dengan demikian,
paragraf ini berisikan pembahasan inti persoalan yang dikemukakan.
c)
Paragraf penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang berada pada bagian akhir tulisan yang
berisikan simpulan dari semua uraian sebelumnya dengan fungsinya sebagai
penutup. Paragraf ini sering merupakan pernyataan atau penegasan kembali
mengenai masalah-masalah yang dianggap penting dalam paragraf penghubung.
Kalimat-kalimat yang menyusunnya diusahakan dapat menimbulkan kesan yang
mendalam bagi pembaca. Seperti halnya paragraf pembuka, paragraf ini tidak
boleh terlalu banyak atau terlalu panjang.
2)
Berdasarkan posisi
kalimat utama, paragraf dinagi empat yaitu:
a)
Paragraf deduktif
Kalimat utama yang ditempatkan pada bagian awal paragraf
akan membentuk paragraf deduktif, yaitu cara penguraian yang menyajikan pokok
permasalahan lebih dahulu, lalu menyusul uraian terinci mengenai ide pokok
(mengikuti urutan umum-khusus).
b) Paragraf induktif
Kalimat utama yang ditempatkan pada bagian akhir akan
membentuk paragraf induktif, yaitu cara penguraian yang menyajika penjelasan
terlebih dahulu, kemudian diakhiri dengan pokok pembicaraan (mengikuti uraian khusus-umum)
.
c)
Paragraf
deduktif-induktif
Kalimat utama yang ditempatkan pada bagian awal dan
diulang pada bagian akhir akan membentuk paragraf deduktif-induktif (campuran).
Kalimat pada bagian akhir lebih bersifat mengulang atau menegaskan kembali
gagasan utama pada bagian awal. Cara penguraiannya dimulai dalam pernyataan
yang umum kemudian di perjelas dengan yang khusus, lalu kembali ke yang umum.
d)
Paragraf penuh
kalimat utama
Seluruh kalimat yang membentuk paragraf sama pentingnya
sehingga tidak satu pun kalimat yang khusus menjadi kalimat utama. Paragraf
jenis ini sering dijumpai dalam uraian-uraian yang bersifat deskriptif dan
naratif.
3) Berdasarkan sifat isinya, paragraf dibagi atas lima jenis
yaitu:
a)
Paragraf naratif,
jika isi paragraf bersifat menuturkan peristiwa atau keadaan dalam bentuk
cerita.
b)
Paragraf
deskriptif, jika isi paragraf bersifat melukiskan atau menggambarkan sesuatu
dengan bahasa.
c)
Paragraf
ekspositoris, jika isi paragraf bersifat memaparkan suatu fakta atau kejadian
tertentu.
d)
Paragraf
argumentatif, jika isi paragraf bersifat membahas satu masalah dengan
bukti-bukti atau alasan yang mendukung.
e)
Paragraf persuasif,
jika isi paragraf bersifat mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi
pembaca.
D.
Pengembangan Paragraf
Paragraf harus diuraikan dan dikembangkan oleh para
penulis atau pengarang dengan variatif. Sebuah karangan ilmiah bisa mengambil
salah satu model pengembangan atau bisa pula mengombinasi beberapa model
sekaligus.
1) Model pengembangan Paragraf
Menurut (Rahardi, 2010: 129-130), beberapa model
pengembangan paragraf adalah sebagai berikut:
a.
Pengembangan
Alamiah
Pengembangan paragraf yang berciri alamiah didasarkan
pada fakta spasial dan konologi. Jadi, pengembangan itu harus setia pada urutan
tempat, yakni dari titik tertentu menuju titik yang tertentu pula dalam sebuah
dimensi deskripsi. Adapun yang dimaksud dengan setia pada urutan waktu adalah
bahwa pengembangan itu harus bermula dari titik waktu tertentu dan berkembang
terus sampai pada titik waktu selanjutnya . Deskripsi objek tertentu, deskripsi
data, dongeng atau narasi yang lainnya, mengadopsi model pengembangan alamiah
yang demikian ini.
b.
Pengembangan
Deduksi-Induksi
Pengembangan paragraf dengan model deduksi dimulai dari
sesuatu gagasan yang sifatnya umum dan diikuti dengan perincian-perincian yang
sifatnya khusus dan terperinci. Sebaliknya yang dimaksud dengan pengembangan
paragraf dalam model induksi adalah pengembangan yang dimulai dari hal-hal yang
sifatnya khusus, mendetail, terperinci, menuju ke hal-hal yang sifatnya umum.
c.
Pengembangan Analogi
Pengembangan paragraf secara analogis lazimnya dimulai
dari sesuatu yang sifatnya uumum, sesuatu yang banyak dikenal oleh publik,
sesuatu yang banyak dipahami kebenarannya oleh orang dengan sesuatu yang baru,
sesuatu yang belum banyak dipahami publik. Dengan cara analogi yang demikian
itu diharapkan orang akan menjadi lebih mudah dalam memahami dan menangkap
maksud dari sesuatu yang hendak disampaikan dalam paragraf itu. Jadi, tujuan
dari analogi itu sesungguhnya adalah untuk memudahkan pemahaman pembaca,
sehingga sesuatu yang masih kabur, masih samar-samar, bahkan mungkin sesuatu
yang sangat sulit, bisa menjadi lebih mudah ditangkap dan gampang dipahami.
d.
Pengembangan Klasifikasi
Paragraf yang dikembangkan dengan mengikuti pinsip
klasifikasi juga akan dapat memudahkan pembaca dalam memahami isinya. Dengan
cara klasifikasi itu, maka tipe-tipe yang sifatnya khusus atau spesifik akan
dapat ditemukan. Sesuatu yang sifatnya kolosal, sangat besar, sangat umum akan
bisa sangat sulit untuk dapat dipahami ole pembaca jika tidak ditipekan atau
diklasifikasikan terlebih dahulu. Paragraf yang dikembangkan dengan cara ini
akan sangat memudahkan pembaca karena kelas-kelasnya jelas, tipe-tipenya jelas.
Pengkelasan atau penipean itu dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara,
mungkin berdasarkan kesamaan karakternya, bentuknya, ciri, sifatnya dan
lainnya.
e.
Pengembangan
Komparatif dan Kontrastif
Sebuah paragraf dalam karangan ilmiah juga dapat
dikembangkan dengan cara diperbandingkan dimensi-dimensi kesamaannya. Kesamaan
itu bisa cirinya, karakternya, tujuannya, bentuknya, dan seterusnya.
Perbandingan yang dilakukan dengan cara mencermati dimensi-dimensi kesamannya
untuk mengembangkan paragraf yang demikian ini dapat disebut dengan model
pengembangan komparatif. Sebaliknya perbandingan yang dilakukan dengan cara
mencermati dimensi-dimensi perbedaamnya dapat disebut dengan perbandingan
kontrastif.
f.
Pengembangan Sebab-Akibat
Sebuah paragraf dapat dikembangkan dengan model
sebab-akibat atau sebaliknya akibat-sebab. Pengaembangan paragraf dengan cara
yang demikian ini juga lazim disebut sebagai pengembangan yang sifatnya
rasional. Dikatakan sebagai pengembangan yang sifatnya rasional karena lazimnya
orang berfikir berawal dari sebab-sebab dan bermuara pada akibat-akibat atau
sebaliknya dapat juga pengembangan itu
berangkat dari akibat-akibat terlebih dahulu, kemudian beranjak masuk
pada sebab-sebabnya.
g.
Pengembangan
Klimaks-Antiklimaks
Paragraf dapat pula dikembangkan dari puncak-puncak
peristiwa yang sifatnya kecil-kecil dan beranjak terus maju kedalam puncak
peristiwa yang paling besar atau paling optimal, kemudian berhenti di puncak
yang paling optimal tersebut. Akan tetapi ada pula paragraf yang
pengembangannya masih diteruskan kedalam tahapan penyelesaian yang selanjutnya,
yakni antiklimaks. Model pengembangan paragraf yang disebutkan terakhir ini
tidak sangat lazim ditemukan di dalam karya ilmiah. Kebanyakan narasi atau
dongeng-dongeng pengantar tidur menerapkan model pengembangan paragraf yang
demikian ini.
Menurut Rahim (2013: 71), dalam mengembangkan paragraf
dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:
a)
Susunlanlah kalimat
topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit
dikembangkan, jangan puloa terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang
panjang lebar)
b)
Tempatkanlah
kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah
paragraf
c)
Dukunglah kalimat
topik tersebut dengan detail-detail atau perincian-perincian yang tepat.
d)
Gunakan kata-kata
transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Paragraf adalah bagian-bagian karangan yang terdiri atas
kalimat-kalimat yang berhubungan secara utuh dan padu serta merupakan satu
kesatuan pikiran
·
Tujuan penyusunan paragraf
dalam karya tulis yaitu, memudahkan pengertian dan pemahaman dengan cara
menyekat-nyekat ide pokok yang satu dari ide pokok yang lain berdasarkan
keharusan untuk mengungkap satu ide pokok saja pada setiap paragraf
dan Memudahkan pembaca mengikuti uraian penulis secara
sistematis dari ide yang satu ke ide yang lain sehingga pemusatan perhtian
dapat dilakukan terhadap setiap ide yang diungkapkan dalam karya tulis
tersebut.
·
Paragraf dapat berfungsi sebagai tanda pembukaan topik
baru, atau pengembangan lebih lanjut topik sebelumnya. Paragraf juga bisa
berfungsi untuk menambah hal-hal yang penting atau untuk merinci apa yang sudah
diutarakan dalam paragraf sebelumnya.
·
Syarat-syarat pembentukan paragraf adalah kesatuan paragraf, kepaduan paragraf
(koherensi).
·
Jenis-jenis paragraf dapat diketahui berdasarkan tiga
aspek yaitu, berdasarkan fungsinya dalam
karangan,berdasarkan posisi kalimat utama, dan berdasarkan sifat isinya.
·
Paragraf harus diuraikan
dan dikembangkan oleh para penulis atau pengarang dengan variatif. Sebuah
karangan ilmiah bisa mengambil salah satu model pengembangan atau bisa pula
mengombinasi beberapa model sekaligus.
·
beberapa model
pengembangan paragraf, yaitu pengembangan alamiah,
pengembangan deduksi-induksi, pengembangan analogi, pengembangan klasifikasi,
pengembangan komparatif dan kontrastif, pengembangan sebab-akibat dan
pengembangan klimaks dan antiklimaks
B. Saran
Paragraf adalah bagian-bagian karangan yang terdiri atas
kalimat-kalimat yang berhubungan secara utuh dan padu serta merupakan satu
kesatuan pikiran.
Setelah mengetahui pembentukan
paragraf dalam pembahasan diatas maka kita harus mempraktikkannya dalam
kehidupan sehari-hari, disamping itu sebagai calon seorang guru kita harus
lebih tahu tentang pembentukan paragraf
untuk bekal mengajar peserta didik agar kemampuan pembentukan paragraf
mereka lebih matang dan untuk menumbuhkan sikap positif dalam berbahasa
Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Amran Tasai. 1985. Cermat Berbasa Indonesia untuk Pergurua Tinggi. Jakarta: Akademika
Presindo
Widjono. 2007.
Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian
diPerguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo
Rahim, Abdul. 2023. Bahasa
Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Makassar: Alauddin Press
Rahardi, R. Kunjana. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar